
DOSEN UNIVERSITAS BINA DARMA RAIH DUA PENGHARGAAN INTERNASIONAL DALAM AJANG HACKATHON BERBASIS ARTIFICIAL INTELLIGENCE
Palembang — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh dosen Universitas Bina Darma. Akhmad Khudri, M.Kom., dosen Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Sains dan Teknologi, berhasil meraih dua penghargaan internasional dalam ajang hackathon teknologi global yang berfokus pada pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk solusi nyata di berbagai sektor.

Penghargaan pertama diraih melalui proyek SafeSpace pada ajang HealTech Innovators Hackathon, sebuah kompetisi internasional yang diselenggarakan oleh komunitas teknologi global LA Hacks melalui platform Devpost. Kompetisi ini diikuti oleh 196 peserta dari berbagai negara dan berlangsung pada periode 20 November 2025 hingga 30 Januari 2026.
Dalam kompetisi tersebut, proyek SafeSpace berhasil memenangkan Category Prize: AI for Healthcare. SafeSpace merupakan platform digital berbasis kecerdasan buatan yang dirancang sebagai ruang aman bagi pengguna untuk melaporkan tindakan perundungan (bullying), mengakses sumber daya kesehatan mental, serta memperoleh dukungan secara cepat dan aman. Solusi ini dikembangkan sebagai respons terhadap meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan mental yang inklusif dan mudah diakses secara digital.
Prestasi internasional kedua diraih melalui proyek Dev Arsenal pada ajang LavaPunk Hackathon, yang diselenggarakan oleh komunitas teknologi Kismati melalui Devpost dan diikuti oleh 488 peserta internasional. Kompetisi ini berlangsung pada 25 Desember 2025 hingga 25 Januari 2026.
Pada kompetisi tersebut, Dev Arsenal memperoleh penghargaan IBM Premium Professional Certification. Dev Arsenal merupakan platform pengembangan modern yang menghadirkan kombinasi 12 perangkat terintegrasi berbasis AI-assisted development, verifikasi berbasis blockchain, serta kolaborasi real-time untuk meningkatkan produktivitas dan keamanan kerja para pengembang perangkat lunak di era digital.
Akhmad Khudri, M.Kom., menyampaikan bahwa partisipasi dalam kompetisi internasional ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam mengintegrasikan riset akademik dengan inovasi teknologi yang berdampak langsung bagi masyarakat.
“Keikutsertaan dalam hackathon internasional menjadi sarana untuk menguji ide dan kemampuan dalam konteks teknologi. Harapannya, inovasi berbasis Artificial Intelligence dan Blockchain yang dikembangkan tidak hanya berhenti pada kompetisi, tetapi dapat terus dikembangkan menjadi solusi nyata yang memberi manfaat luas bagi masyarakat, ini sekaligus menjadi pembuktian bahwa jika kita mau, kita mampu bersaing secara global.” ujarnya.
Prestasi tersebut juga menunjukkan bahwa sivitas akademika Universitas Bina Darma mampu bersaing dan berkontribusi dalam pengembangan solusi teknologi di tingkat internasional, khususnya dalam bidang Artificial Intelligence, blockchain, kesehatan digital, serta transformasi ekosistem pengembangan perangkat lunak modern.



